A). DEFINISI
USHUL FIQH
Al-Ashlu[1]
(الأصل) secara bahasa adalah
sesuatu yang menjadi sandaran bagi perkara lain. Sebagaimana dasar dinding berarti pondasi dinding, dan dasar pohon
berarti pangkal yang berada di (dalam) tanah,
maka dasar fiqh adalah pondamennya.
Al-Far’u[2] (الفرع) secara bahasa adalah sesuatu yang bersandar di atas perkara lain. Sebagaimana cabang
pohon bersandar pada akarnya, cabang fiqh bersandar pada ashalnya.
Al Ashlu menurut istilah adalah dalil, kaidah
umum, rajih dan mustashhab.
1.
Al-Ashlu
dengan makna Dalil (الدليل)
Sebagaimana perkataan para ulama’:
اَلْأَصْلُ وُجُوْبِ الزَّكَاةِ الْكِتَابُ
“Ashal wajibnya zakat adalah al-Kitab.”
Maksudnya,
dalil wajibnya zakat adalah al-Kitab. Allahy
ber-firman: وَآتُواْ
الزَّكَاةَ (Dan
tunaikanlah zakat!)
2.
Al-Ashlu
dengan makna Kaidah Umum(القاعدة الكلّية) .
Sebagaimana perkataan para ulama':
إِبَاحَةُ الْمَيْتَةِ لِلْمُضْطَرِّ خِلَافُ الْأَصْلِ
“Diperbolehkannya memakan bangkai bagi orang yang terpaksa adalah
bertentangan dengan ashal.”
Maksudnya,
bertentangan dengan kaidah umum, yaitu: “Semua bangkai hukumnya
adalah haram.”
Allahy
berfirman: حُرِّمَتْ
عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ (Bangkai
diharamkan atas kalian).
3.
Al-Ashlu
dengan makna Rajih (الراجح).
Sebagaimana perkataan para ulama':
اَلْأَصْلُ فِي الْكَلَامِ الْحَقِيْقَةُ
“Ashal dari suatu perkataan adalah
makna yang sebenarnya.”
Maksudnya, pengertian yang kuat dalam konteks segera dipahami oleh pendengar.
4.
Al-Ashlu
dengan makna Mustashhab (المستصحب).
Sebagaimana perkataan para ulama':
اَلْأَصْلُ بَقَاءُ مَا كَانَ عَلَى مَا كَانَ
“Dasar ketetapan hukum adalah mengikuti hukum yang sudah ada
(mustashhab).”
Apabila seseorang yakin sudah berwudlu',
kemudian dia ragu dalam masalah hadats (apakah dia sudah hadats
(batal) atau belum)?
Maka ia dianggap masih suci.
Dari 4 (empat) pengertian di
atas,
maka yang terpakai dalam pembahasan istilah ushul-fiqh disini adalah arti
pertama, yaitu Al-Ashlu dengan makna Dalil (الدليل).
Ushul-fiqh
adalah dalil fiqh secara global. Contoh:
1.
Perintah, untuk makna wajib. 4. Ijma’
2.
Larangan, untuk makna haram. 5. Qiyas.
3.
Perbuatan Nabij,
Kelima
perkara tersebut adalah hujjah.